‎44 KK Korban Bencana di Mendale Pertanyakan Huntara, DTH dan Jadup

- Penulis

Minggu, 15 Februari 2026 - 16:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAKENGON – Sebanyak 44 kepala keluarga (KK) korban bencana hidrometeorologi 16 November 2025 di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, hingga pertengahan Februari 2026 masih menunggu realisasi hunian sementara (huntara), Dana Tunggu Hunian (DTH), dan jatah hidup (jadup).

Sebagian warga masih menyewa rumah secara mandiri, sementara lainnya sempat bertahan di Masjid Abrar dan fasilitas umum setempat.
‎Salah seorang warga terdampak, Jalimin, mengaku belum menerima bantuan sebagaimana yang disampaikan saat masa tanggap darurat.

“Katanya sebelum Ramadan huntara sudah bisa ditempati. Kami diberi dua pilihan, huntara atau DTH Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan. Tapi sampai sekarang belum ada. Jadup Rp15 ribu per jiwa juga belum ada. Kami lima jiwa,” ujarnya, Minggu (15/02/2026).

Ia juga mengaku harus mengeluarkan biaya pribadi untuk membersihkan puing rumahnya yang rusak berat.
‎“Beko Rp3 juta per hari, mobilisasi Rp1 juta. Total Rp4 juta. Uang bersih-bersih Rp500 ribu dari Baitul Mal juga belum kami terima,” katanya.

BPBD: Jadup Ranah Dinas Sosial
‎Terkait keluhan jadup, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andika, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp menyampaikan jawaban singkat.

“Kalau jadup itu ranah Dinas Sosial,” tulisnya.

Dinsos: Jadup 90 Hari, Tahap Pertama Segera Disalurkan
‎Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Aceh Tengah, Windi Darsa, memberikan penjelasan lebih rinci. Ia menyebut jadup bagi korban bencana hidrometeorologi 16 November 2025 telah diusulkan dan masuk dalam skema bantuan sesuai ketentuan.

“Jatah hidup itu Rp15 ribu per jiwa per hari dan diberikan maksimal selama 90 hari masa darurat sesuai regulasi. Saat ini tahap pertama sedang dalam proses pencairan,” ujarnya.

Menurutnya, tahap pertama direncanakan disalurkan dalam waktu dekat dan akan dilakukan secara simbolis di Kecamatan Ketol karena di wilayah tersebut sudah tersedia huntara.

“Secara teknis, penyaluran tetap berdasarkan data by name by address yang sudah ditetapkan melalui SK Bupati. Jadi bukan hanya simbolis, tetapi seluruh penerima sesuai data akan diproses,” jelasnya.

Ia menyebut total penerima jadup di Aceh Tengah mencapai sekitar 12 ribu jiwa berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi lintas instansi. Data tersebut berasal dari usulan desa dan kecamatan yang kemudian diverifikasi, termasuk validasi Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Prosesnya memang harus diverifikasi agar tidak terjadi data ganda atau kekeliruan. Kita tidak ingin ada temuan di kemudian hari. Karena anggaran ini bersumber dari pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial,” katanya.

Windi juga menjelaskan bahwa jadup berbeda dengan DTH maupun pembangunan huntara. Jadup merupakan bantuan kebutuhan dasar untuk konsumsi harian korban selama masa darurat, sedangkan DTH adalah bantuan uang sewa sementara bagi korban yang rumahnya rusak berat dan belum mendapatkan hunian tetap.

“Untuk DTH dan huntara itu lintas sektor. Ada peran Dinas Perkim dan koordinasi dengan BPBD serta pemerintah pusat. Dinas Sosial fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk jadup,” terangnya.

Selain jadup, pihaknya juga menyalurkan bantuan logistik dan dukungan kebutuhan rumah tangga, serta bantuan penguatan ekonomi usaha kecil bagi korban terdampak sesuai data yang telah diverifikasi.

Huntara dan DTH Masih Ditunggu
‎Sementara itu, terkait huntara, pemerintah desa menyebut pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meninjau lokasi rencana pembangunan pada 15 Februari 2026.

Dari tiga opsi awal—relokasi, DTH, dan huntara—data terakhir menunjukkan sebagian rumah akan dibangun huntara, sementara sisanya masuk skema DTH.
‎Meski demikian, warga berharap seluruh bantuan yang dijanjikan dapat segera direalisasikan, mengingat sudah tiga bulan pascabencana mereka masih bertahan di pengungsian dan rumah sewa.

“Kami hanya ingin kepastian. Kalau memang cair, kapan. Kalau huntara dibangun, kapan selesai. Jangan kami terus menunggu tanpa kejelasan,” tutup Jalimin.

Baca Juga:  ‎ ‎Dari Darurat hingga Pascabencana, Dapur MBG SPPG Simpang Empat Bebesen Tetap Beroperasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel zkanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎Penjualan Cip Higgs Domino Disebut Semakin Marak di Aceh Tengah, Warga Minta Ditertibkan
Musim Kopi Berdampak pada Pedagang Pekan Pasar Bies, Pengunjung Sepi Penjualan Turun
DPD IKM Aceh Tengah Terima Bantuan Dana dari Seluruh DPD IKM Se-Aceh Untuk Korban Kebakaran Di Jagung Jeget
Sholat Subuh Di Desa Mongal. Ini Pesan Dandim 0106/Aceh Tengah
Kebakaran Lahan kawasan lindung di Bener Meriah, Tim Identifikasi Polres dan KPH Turun ke Lokasi
Medco E&P dan BPMA Tanam 1.000 Mangrove di Banda Aceh
Medco E&P dan BPMA Kembali Salurkan Beasiswa bagi 431 Pelajar Berprestasi di Aceh Timur
Kodim Aceh Tengah Percepat Pembangunan Jembatan Garuda
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 04:36 WIB

‎Penjualan Cip Higgs Domino Disebut Semakin Marak di Aceh Tengah, Warga Minta Ditertibkan

Sabtu, 12 September 2026 - 05:20 WIB

Musim Kopi Berdampak pada Pedagang Pekan Pasar Bies, Pengunjung Sepi Penjualan Turun

Jumat, 11 September 2026 - 13:58 WIB

DPD IKM Aceh Tengah Terima Bantuan Dana dari Seluruh DPD IKM Se-Aceh Untuk Korban Kebakaran Di Jagung Jeget

Rabu, 2 September 2026 - 02:18 WIB

Sholat Subuh Di Desa Mongal. Ini Pesan Dandim 0106/Aceh Tengah

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Kebakaran Lahan kawasan lindung di Bener Meriah, Tim Identifikasi Polres dan KPH Turun ke Lokasi

Berita Terbaru